Monday, September 2, 2013

Cinta Pertama

Selamat Ulang Tahun, Cinta Pertama 

Seorang wanita dengan wajah sayu, berhidung sedikit mancung kedalam (pesek ☺) , bermata sendu.

Serta seorang wanita  yang dihiasi dengan suara sedik berbeda dari wanita lainnya.

Di mataku kautanpa cela.
Di hatiku, kaumemiliki peran yang luar biasa.

Mungkin, kautak akan pernah membaca ini, melihat sekejap matapun tidak mungkin,
Apalagi membaca hingga paragraf akhir.

Mungkin, kau tidak mengetahui usahaku untuk menulis ini,
Usahaku untuk mengundangmu kembali berotasi diotakku, mengelilingi poros otak tengah, menjalar ke otak kiri, lalu membias ke otak kanan.

Tak ada dasar apapun dan tak ada alasan apapun yang bisa menjelaskan mengapa aku harus membiarkan jemariku menari dan kembali menuliskan semua hal tentangmu.

Seseorang yang sempat mengendap dalam sel otakku, seseorang yang pernah terlupakan oleh jemariku yang dulu sering menuliskan tentangmu.

Jika aku bercerita bagaimana pertemuan awal kita hingga perpisahan kita,
Mungkin tulisan itu akan terakum sempurna menjadi sebuah roman, yang di dalamnya terdapat tokoh sentral.

Yaitu kita, AKU dan KAMU,

bertemu, berkenalan, berteman, bercanda, bergembira, jatuh cinta, indah, dan berpisah.    ( ̄^ ̄)

Jadi, aku tidak akan bercerita tentang itu.

Tunggu dulu !!!

Bukannya aku melupakan kenangan itu, aku hanya ingin membuat semua paragraf menjadi sangat berisi dan efektif,
Walaupun sekali lagi mungkin kau takakan membacanya.

Aku bahkan tidak lagi tahu kabarmu.
Di mana tempat tinggalmu ?

Siapa lelaki beruntung yang menjadi pilihanmu saat ini ?

Bagaimana keadaanmu ?

Tak perlu lagi aku membiarkan air mataku terbujur kaku, menyerah setelah beberapa saat bertahan dipelupuk mata.

Aku yang sekarang adalah sosok kuat yang dulu belum kau kenal.
Jika kau melihatku saat ini, kau pasti berkata,
                     " KAMU BERBEDA ! ! ! "

Ungkapmu dengan rambut menyeringai terurai santai, dengan mata dan wajah yang sendu.

Kau semakin tua. Aku sedang membayangkanmu saat ini,

mungkin hidungmu semakin mancung kedalam ☺ ,

mungkin bulu matamu semakin lentik,

mungkin pipimu semakin memerah ketika panas menyengat hangat pipimu,

mungkin kau sibuk dengan kegiatanmu, dan mungkin kautelah melupakanku.

Dari jarak sejauh ini, mustahil jika aku bisa lagi menyorot erat bola matamu dan menyerap sinarnya. 

Bukankah, kenangan cinta pertama itu tak akan pernah bisa disembunyikan?

Bukankah, kekuatan cinta pertama jauh lebih kuat daripada cinta-cinta lainnya?

Tapi, apa yang kurasakan saat ini, hanya aku yang tahu, hanya aku yang bisa manafsirkan.

Kau miliki jalanmu, aku mengikuti jalanku,

Sekarang bukan dulu, kau dan aku bukan lagi bocah ingusan yang suka permainan.

Jadi, untuk segala kemungkinan yang terjadi, biarlah Tuhan menyimpan kemungkinan itu rapat-rapat dalam sela-sela jemariNYA yang penuh kuasa.

Diumurmu yang semakin bertambah ini, semoga Tuhan memberkati semua rencana pembahagiaanmu,

Semoga kau tetap dicintai oleh sesamamu, dan semoga aku masih tersimpan aman dalam laci lemari otakmu.

Satu hal yang perlu kau ketahui, aku tak pernah mengabaikan kekuatan cinta pertama.

Terinspirasi oleh @DwitaSari  ☺

No comments:

Post a Comment